GaleriTips dan Artikel

KETIKA ADAB DITUDUH FEODAL, DAN KEBIADABAN DIANGGAP WAJAR

Oleh : Kurniawan, S.Pd.I.,M.Pd

Di sebuah ruang kelas sekolah negeri, kita tidak jarang mendengar kabar murid membentak guru, bahkan sampai terjadi perkelahian. Video-video semacam itu beredar, mengundang perhatian sesaat, lalu hilang ditelan waktu. Anehnya, reaksi publik seringkali datar. Tidak banyak yang benar-benar marah, apalagi sampai menyerukan pembubaran sistem sekolah negeri. Seolah-olah itu dianggap “kejadian biasa”, atau paling jauh disebut sebagai “oknum”.

Namun, di sisi lain, ketika kita melihat suasana di pesantren, para santri menundukkan kepala saat berpapasan dengan kiai atau ustadz, menjaga sikap, merendahkan suara, justru muncul tudingan. Dikatakan feodal, dianggap sebagai bentuk penjajahan mental, bahkan tidak sedikit yang lantang berteriak: “Bubarkan pesantren!”

Di sinilah letak kejanggalannya. Ketika adab runtuh, kita diam. Ketika adab dijaga, kita curiga.

Coba kita renungkan sejenak: mana yang sebenarnya lebih berbahaya? Murid yang berani melawan, membentak, bahkan menyerang gurunya? Atau murid yang menghormati gurunya, menundukkan diri sebagai bentuk takzim terhadap ilmu?

Jika seorang murid kehilangan rasa hormat kepada guru, maka yang runtuh bukan hanya hubungan personal, tetapi juga keberkahan ilmu itu sendiri. Guru bukan sekadar penyampai materi, tapi pembimbing akhlak dan pembentuk karakter. Ketika otoritas moral guru dihancurkan, maka pendidikan berubah menjadi sekadar transfer informasi—kering, tanpa ruh, tanpa nilai.

Sebaliknya, tradisi takzim di pesantren bukanlah bentuk perbudakan atau feodalisme sebagaimana yang sering dituduhkan. Ia adalah manifestasi dari kesadaran bahwa ilmu itu mulia, dan orang yang membawanya layak dihormati. Dalam tradisi ini, merunduk bukan berarti hina, tetapi tanda keluhuran jiwa. Menahan diri bukan berarti tertekan, tetapi bentuk kedewasaan spiritual.

Lalu mengapa yang baik justru dicurigai, sementara yang rusak dianggap lumrah?

Barangkali kita sedang hidup di zaman ketika standar nilai mulai terbalik. Ketika kebebasan ditafsirkan tanpa batas, hingga menghapus rasa hormat. Ketika kesetaraan dipahami secara keliru, sampai menafikan adab kepada yang lebih berilmu. Dan ketika tradisi yang menjaga moral dianggap ancaman, sementara kerusakan moral dianggap bagian dari dinamika.

Ini bukan sekadar soal sekolah negeri atau pesantren. Ini soal arah peradaban. Apakah kita ingin membentuk generasi yang pintar tetapi kasar, atau generasi yang berilmu sekaligus beradab?

Pertanyaan terakhir yang perlu kita jawab dengan jujur:
Ketika kita lebih gelisah melihat santri merunduk daripada melihat murid memukul gurunya, sebenarnya apa yang sedang rusak—sistemnya, atau cara berpikir kita? Mari renungkan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *