GaleriSerba-Serbi

PENTINGNYA HALAL BIHALAL

Oleh : Kurniawan,S.Pd.I.,M.Pd

Dewan Pondok Pesantren Babussalam

Tradisi Halal bi halal merupakan salahsatu tradisi yang bersifat tipologi (khosoish) yang ada di masyarakat islam di nusantara. Yang mana tradisi ini akan sulit bahkan tidak akan ditemui di belahan negeri yang lain. Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya seberapa penting acara halal-bihalal ini ? adakah dalil yang melatar belakanginya? Bagaimana asal usulnya? Dan segudang pertanyaan lainnya yang akan diuraikan dalam pemaparan singkat berikut.

  1. Apa artinya halal bi halal dan apa maknanya?

Jika dilihat dari lafadznya “Halal bi Halal” merupakan akronim dari istilah :

طَلَبُ الْحَلَالِ بِطَرِيقِ الْحَلَالِ

Artinya : Meminta kehahalalan dengan cara yang halal

Karena hukum bermusuhan antar sesama muslim dan saling mendzolimi itu hukumnya haram, sebagaimana Hadist Rasulullah SAW :

لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَن يَهْحُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَات دَخَلَ النَّار

Artinya: “Tidak halal (Haram) bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa (bermusuhan) pada saudaranya lebih dari tiga hari lalu meninggal dunia maka ia akan masuk ke dalam neraka.” (HR Abu Dawud)

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَمِيْسٍ وَ اثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا امْرَأَ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ارْكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pada setiap hari senin dan Kamis seluruh amal perbuatan diperlihatkan dan diperhitungkan. Maka, Allah mengampuni bagi setiap orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kecuali seorang yang saat itu sedang ada perseteruan antara ia dengan saudaranya. Kemudian Allah berfirman, ‘Tinggalkan kedua orang ini sampai keduanya saling berbaikan.'” (HR Muslim)

Selagi manusia masih hidup, maka harus segera diminta halalnya kepada orang-orang yang bersangkutan supaya terbebas dari dosa-dosa sesama hak adami. Maka tradisi meminta halal (meminta maaf) dikenal dengan istilah “Halal bi Halal” Yaitu meminta penghalalan dengan cara yang halal.

  • Apa Dalil Al-Qur’an dan Hadist tentang Halal bi halal ?

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. (QS Al-Hujurat: 10)

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jubair bin Muth‘im ai a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih)

  • Bagaimana sejarah singkat halal bi halal ?

Istilah Halal bi halal sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18, namun lebih masyhur dipopulerkan kembali oleh KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1948 yang menjadi usulan kepada presiden Soekarno untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang mulai saling bermusuhan akibat pergolakan politik saat itu.

  • Seberapa penting halal bi halal ?

Jika dikelopokan maka dosa terbagi menjadi 2 yaitu dosa kepala Allah SWT secara langsung dan dosa kepada Allah melalui sesama makhluk.

Dosa kepada Allah bisa terhapus dengan sungguh-sungguh melaksanakan saum Ramadhan, sebagaimana hadist yang masyhur :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tapi Dosa terhadap sesama manusia tidak bisa diampuni dengan shalat, puasa, atau istighfar, tetapi dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Seperti pernah menyakiti, mendzolim harta, menggibah, dll.

Maka sangat penting sekali saling memaafkan sesama manusia untuk membersihkan dosa-dosa terhadap sesama.

  • Bertahni’ah (selamat mengucapkan hari raya)

Pada hari raya Idul Fitri banyak sekali bertebaran ucapan-ucapan selamat hari raya, bahkan meskipun terkadang terjadi kesalahan persepsi antara yang diucapkan dengan maksud yang ingin disampaikan.

Seperti yang sering kita dengan orang-orang mengucapkan “Minal aidzin wal faidzin”, yang hampir semuanya bertujuan untuk meminta maaf. Padahal faktanya tidak ada kata maaf dalam istilah tersebut. Dan seseorang yang mendengarnya mengucapkan “Sama-sama”. Hal ini yang harus diluruskan supaya sejalan dengan apa yang dimaksud.

Lalu bagaimana hukum bertahni’ah dalam islam :

التَّهْنِئَةُ مُسْتَحَبَّةٌ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأِنَّهَا مُشَارَكَةٌ بِالتَّبْرِيكِ وَالدُّعَاءِ – مِن الْمُسْلِمِ لأِخِيهِ الْمُسْلِمِ فِيمَا يَسُرُّهُ وَيُرْضِيهِ؛ وَلِمَا فِي ذَلِكَ مِنَ التَّوَادِّ، وَالتَّرَاحُمِ، وَالتَّعَاطُفِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya : Tahniah (ucapan selamat) adalah perkara yang dianjurkan secara umum. Karena, tahniah merupakan bentuk kebersamaan dalam keberkahan dan doa dari seorang muslim kepada sesamanya karena ada perkara yang membuatnya bahagia. Kebersamaan semacam ini dianjurkan karena dapat melahirkan rasa kasih sayang, saling menyayangi dan rasa welas asih di antara sesama Muslim. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 14, hlm. 97)

  • Dari mana asalnya istilah “Minal ‘Aidin wa Faizin”?

Dahulu kala setelah kemenangan Perang Badar yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, lantas dirayakan secara besar-besaran. sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT dari kemenangan inilah, muncul ungkapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” yang versi lengkapnya :


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.”

Lalu bagaimana doa ini dipakai untuk ungkapan pada hari raya?

Pada hakikatnya lafadz doa apapun hakikatnya boleh-boleh saja dipakai kapanpun selagi tidak dikhususkan dalam ibadah-badah tertentu. Apalagi memang doa tersbut jika dikaitkan dengan idul fitri memiliki korelasi yang bisa dibenarkan. Seperti orang-orang yang selesai dari saum di bulan ramadhan berharap menjadi orang-orang yang kembali kepada asalnya, yaitu tidak memiliki dosa kepada siapapun, baik kepada Allah SWT dan sesama manusia.

Jadi jika ada orang yang berkata “Minal aidzin wal faidzin” alangkah baiknya dijawab dengan ungkapan “Amiiin”. Karena ini merupakan sebuah doa.

Adapun ungkapan permintaan maaf bisa dengan menggunakan bahasa sendiri yang dapat difahami oleh orang yang diajak bicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *